Tidak memberi berarti anda peduli

Memberi adalah hal sangat terpuji dan sangat positif. Dengan memberi berarti kita peduli terhadap sesama. Menilik kondisi masyarakat kita saat ini, diperlukan tangan-tangan yang rela memberi. Pada saat ini terjadi sebuah kesenjangan kesejahteraan yang begitu kentara, seakan terdapat jurang pemisah yang tak mungkin terseberangi antara kaya dan miskin. Tapi ternyata tak selamanya memberi itu positif, dan tak selamanya memberi itu adalah bentuk kepedualian kita terhadap sesama..mengapa demikian??

Di sebuah perempatan Antara Jln. Senopati, Jln. Brigjen Katamso dan Jln  Sultan Agung di Kota Jogja, terdapat sebuah iklan layanan masyakarat, saya tidak terlalu ingat bunyinya, hanya saja intinya adalah jika kita peduli maka kita tidak akan memberi.

Fenomena yang sekarang muncul di kota-kota besar adalah banyaknya kaum GEPENG alias gelandangan dan pengemis. Hampir di setiap perempatan jalan selalu ada kaum GEPENG. Mulai dari anak kecil sampai orang tua. Masing-masing mempunyai gaya dan cara yang khas untuk mendapatkan iba dari pengendara yang melintas. Ada pengemis yang benar-benar cacat, ada yang pura-pura cacat. Yang sering membuat miris adalah banyak dari  para GEPENG tersebut adalah anak-anak di bawah umur. Mereka “dipaksa” untuk mengamen, mengemis, atau hanya sekedar digendong. Jumlahnya pun semakin hari semakin bertambah.

Yang kemudian mengelitik perasaan kemanusiaan saya adalah bentuk eksploitasi terhadap anak-anak. Jika sejak kecil mereka sudah kehilangan haknya untuk menikmati kehidupan, bagaimana jika mereka besar nanti? akan menjadi seperti apakah mereka?? mengapa orang tuanya begitu tega memperlakukan anak mereka demikian??mengapa orang tua begitu tega untuk menjadikan anak-anak mereka sebagai komoditas? jawabannya tak lain adalah karena tuntutan ekonomi. Namun demikian sungguh miris melihat kenyataan ini.

Pernah suatu ketika saya saya berbincang dengan seorang tukang tambal ban (Red. KEbetulan ban motor saya bocor, dan terpaksa harus mencari tukang tambal ban yang kebetulan berada dekat perempatan). Pak tua tukang tambal ban tadi berujar : “wah mas..mereka emang sudah lama jadi pengemis mas, tapi jangan salah lho, rumahnya bagus, tingkat mas. Motornya ada 2. Nah…itu, bahkan sekeluarga mereka memang sudah berprofesi jadi pengemis mas, dari mulai anak sampai menantu, nah itu malah cucunya pun dari kecil sudah diajari ngemis. Kalau cerita penghasilan mas, penghasilan mereka lumayan lho mas, bisa ngalahin gaji pegawai negeri golongan IIIA”

Kembali ke iklan layanan masyarakat tadi, kemudian saya berpikir bahwa memang benar bahwa dengan tidak memberi berarti kita peduli. Karena dengan memberi berarti kita membuat jumlah praktek eksploitasi anak-anak semakin subur, jumlah para GEPENG meningkat.

Lalu solusinya bagaimana??

Menurut saya, tidak hanya pemerintah saja yang punya kewajiban untuk menangani masalah ini. Tetapi juga merupakan tanggungjawab kita bersama. Akan lebih bijak jika donasi atau pemberian yang kita lakukan disalurkan ke saluran yang tepat, misalnya rumah singgah. Atau akan lebih baik lagi jika ada yang tertantang untuk membuat sebuah program yang bisa mengatasi masalah ini.

Sejauh yang saya dengar, pemerintah menargetkan pada tahun 2011 kaum GEPENG sudah tidak ada lagi di NEgeri ini. Tapi entah apakah target itu bisa tercapai. Mudah-mudahan saja bisa. Kita sebagai warga negara yang cukup beruntung secara ekonomi juga punya kewajiban mendukung program tersebut.

~ oleh Thomas pada April 9, 2010.

19 Tanggapan to “Tidak memberi berarti anda peduli”

  1. multikompleks permasalahannya Mas. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama

  2. Akar permasalahan semua ini adalah kekeliruan dari cara pandang terhadap anak yang merupakan manusia di masa depan… semoga saja kita semua bisa saling bahu membahu agar masalah bisa segera diatasi… dengan berpikir dan melakukan yang benar…

    terima kasih… bagaimana bila bergabung dengan kami???

  3. lebih baik memberi…..
    http://milanistisolo1899.wordpress.com/

  4. saya juga pernah mengalami perasaan gak enak karena dimintai gepeng atau anak jalanan,, pernah sampai diteriaki oleh seorang pengemis, ‘katanya Islam mengajarkan sedekah, mana buktinya?’ kira-kira kalimatnya begitu,, saya cuma bisa geleng2 kepala,, padahal pengemis itu masih muda dan terlihat sehat

    rupanya mereka cenderung mengambil sebagian dari ajaran Islam ttg keutamaan sedekah,, tapi mengabaikan ajaran Islam ttg keutamaan bekerja

    klo ditilik dari sini, masalahnya adalah kurangnya pemahaman yg menyeluruh ttg agama (khususnya bagi para pengemis yg ‘mengaku’ sejak lahir beragama Islam)

  5. memberi adalah hal yg sangat terpuji, tetapi banyak orang yang memanfaatkan pemberian kita………
    aku pernah memberi seorang “pengemis” (maaf agak eksrim tetapi tdak semua pengemis begitu) ternyata malamnya aq ketemu dengannya sedang mabuk2kan disuatu tempat dengan pengemis2 lain….
    pertanyaannya : Apakah bila kita memberikan sesuatu kepada orang lain itu “SALAH”??????…… dengan catatan kita ingin membantu agar mendapatkan penghidupan layak……..

  6. Bukan urusan kita jika anak2 itu memang dieksploitasi, yang penting kewjiban memberi kepada kaum dhuafa terpenuhi

  7. @ All : thanks dah mampir…dan juga thanks buat opininya, semoga artikel ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua.SALAM

  8. Perlu kerjasama dengan DepSos sih untuk mencerdaskan pola pikir para korban tersebut. Yang kebangeten tuh, ternyata hasil kerjaan mereka tuh disetorkan semuanya ke makelar anak jalanan dan untuk mereka cukup dikasih makan dan sedikit uang jajan. yang kaya tetep boss nya.

  9. masalah pokok terletak pada kemiskinan struktural yi ada yg salah atau keliru dalam kebijakan makro…pemiskinan berkelanjutan…selain itu juga karena memang sikap mental para pengemis yakni..mereka terlalu mengandalkan kehidupannya kpd orang lain…perlu diingat sebagai pembanding hal yg sama ada jutaan pengemis juga di amerika serikat…sekalipun disana ada yg disebut jaminan sosial buat para penganggur dan orang miskin…

  10. Cara terbaiknya apa?

  11. Apa ini artinya, “Anda mau peduli, maka ambillah para anjal itu jadi anak asuh.” ??

  12. bagus tuh …
    mengurangi orang-orang malas .🙂

  13. Memberi…tapi dengan cara yang lebih bijak. Berikan donasi anda ke saluran yang tepat dan anda percayai.Thanks dah mampir.

  14. Terus baiknya gimana? Memberi atau tidak memberi?🙂

    Kriminal muncul bisa dari keterpaksaan himpitan ekonomi.
    Kesempatan bisa dicari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: