Filosofi Makan Roti

Istilah roti buaya mungkin sudah sering anda dengar. Roti buaya biasa digunakan oleh masyarakat Betawi dalam acara pernikahan. Roti buaya punya berbagai ukuran, dari yag ukuran kecil sampai yang ukurannya emang seukuran buaya remaja….nah…bayangkan kalo anda harus menghabiskan sepotong roti buaya yang besarnya sebesar buaya sungguhan….dijamin anda bisa (Red. Maaf) muntah. Apalagi kalo roti itu harus dimakan sekaligus, wah ga kebayang deh gimana jadinya.

Makan roti yang ukurannya relatif besar kalo dimakan sekaligus pasti susah ya. Saya jadi ingat dosen pembimbing skripsi saya waktu S1, beliau mengatakan…kalo anda makan roti yang ukurannya besar, tidak mungkin anda telan sekaligus…bisa-bisa anda muntah. Tapi kalo anda nagi roti itu ke dalam ukuran kecil dan anda makan satu persatu maka lama2 roti itu bisa habis. Itu filosofi makan roti…..nampak sepele ya….

Tahukah anda…..hal yang sepertinya sepele ini bisa menginspirasi hal-hal yang besar lho….mau bukti ??

Saya ingat waktu saya kuliah Pemrograman Terstruktur, ada satu paradigma. Namanya paradigma terstruktur. Nah paradigma ini ternyata melakukan pendekatan dalam menyelesaikan masalah dengan mambagi masalah besar ke dalam masalah-masalah kecil. Tentu sja menyelesaikan masalah kecil akan lebih mudah ketimbang masalah besar. Kalo dalam implementasinya jika kita akan membangun sebuah aplikasi besar, aplikasi tu kita bagi ke dalam prosedur-prosedur. Masing-masing prosedur kita kerjakan…kemudian kita satukan ke dalam sebuah aplikasi.

TErnyata filosofi makan roti ini tidak hanya cocok diaplikasikan dalam dunia pemrograman, dalam kehidupan sehari-haripun kita sering menggunakan. BEberapa bulan ini saya bergelut dengan Tesis saya…syukur..akhirnya semua selesai dengan baik dan tinggal menunggu ujian. Tapi pada awalnya saya sempat bingung….dosen pembimbing saya menawarkan sebuah solusi yang mengharuskan saya menggunakan bahasa pemrograman JAva. Saya sendiri memang biasa programming, tetapi menggunakan java untuk mengembangkan sebuah aplikasi saya belum pernah….nah…ini sebuah masalah besar. Ditambah topik saya memang mengharuskan saya untuk mempelajari sebuah bidang baru. Hm….aplikasi dan konsep harus saya pahami baru saya bisa menyelesaikan tesis saya.

Dalam kebingungan ini, saya mencoba untuk memilah-milah permasalahan yang saya hadapi. Satu per satu saya pelajari dan saya kerjakan. Perasaan enggan seringkali menghinggapi saya, namun saya tetap jalani. KOnsep demi konsep saya pelajari. Pemahaman pun saya dapatkan sedikit demi sedikit.

Saya yang sudah terbiasa dengan konsep terstruktur harus beralih ke konsep Object Oriented Programming…wah bukan perkara mudah. Class demi Class saya buat. Dari Class yang sederhana…..sampai akhirnya aplikasi terselesaikan. Malah kemudian saya jatuh cinta pada OOP….kenapa nggak dari dulu ya….tapi ngga ada kata terlambat untuk belajar.

Sekarang saya bisa sedkit bernafas lega, karena tinggal menunggu ujian.

Artikel ini saya dedikasikan untuk teman-teman yang sedang mengerjakan Skripsi maupun TEsis….ayo jangan menyerah. Kerjakan sedikit demi sedikit….yang penting konsisten, semua akan segera terselesaikan.

~ oleh Thomas pada April 8, 2010.

29 Tanggapan to “Filosofi Makan Roti”

  1. mantap itu merupakan fisik ilmiah kita!!!

  2. […] saya dalam mengerjakan Tesis. Sebenarnya saya sudah pernah menulis artikel  mengenai topik berbagi pengalaman mengerjakan TA, tapi tak ada salahnya saya tuliskan lagi. Sharing saya ini akan saya bagi ke dalam beberapa bagian […]

  3. wah metode terstruktur ini sudah dipakai dimana2 yah, dlm pendidikan dan dunia pengajaran jg sudah mulai banyak dipakai metode pembelajaran terstruktur maz🙂 tujuan utamanya untuk memudahkan siswa/mahasiswa memahami materi sehingga mereka nantinya bisa mengaplikasikan ilmu2 tersebut di dunia nyata…

  4. Nah…mungkin mmg itu istilah yg pas dan inspiratif. Thx sdh mengundang kemari ya…

  5. bener banget mas…
    ini mirip dengan konsep abstraksi (pemodelan/pemecahan masalah besar menjadi masalah kecil)…
    terimakasih nih atas pencerahnnya….

    salam kenal…

  6. roti besar dibagi ke banyak mulut dan kehidupan, habis juga

  7. sedikit demi sedikit….

    makasih artikelnya *jadi makin semangat nyusun*
    😀

  8. nice artikel..berakit2 ke hulu, berenang ke tepian..

  9. Kira-kira sama ya dengan pindahan kamar, nggak bisa ngluarin barang sekaligus..
    Trima kasih inspirasinya.

  10. Nice! saya lagi skripsi, baca postingan ini menimbulkan semangat juga, btw. saya belum pernah makan roti buaya. ngeliatny aja sdh seram. Hahaha!

    salam kenal ya

  11. Rasanya seperti apa ya kira2 roti Buaya itu, soalnya saya belum pernah memakannya…

  12. nice posting,
    Salam

  13. motivasi roti untuk skripsi dan tesis…thx…

  14. Hooo… ada hubungannya ya dg pemrograman..?😮
    Btw, saya kurang suka makan roti…. Enakan nasi.😆

    • Makan roti sama pemrograman terstruktur dua2nya sama membagi yang nesar ke dalam yang kecil-kecil…adi lebih mudah dimakan/dikerjakan. Sayapun lebih suka nasi….roti buaya cma dipake buat perumpamaan aja.Thanks.

  15. saya malah belon pernah makan roti buaya😛

  16. Huwaaaaaaaaa…..bener Kak….
    Nancep banget ya artikelnya…
    Berarti itu sama kayak 1×50 lebih baik daripada 50×1, gt kan?
    *makasih buat semangatnya*🙂

    jadi pengen mulai nyicil2 lagi…😛

  17. owh, programmer.
    he..he..he..:mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: