Putus Pun, Lewat Facebook

Jari-jemarinya lincah bermain di atas papan keyboard. Tak sampai tiga menit kemudian, pemuda tanggung itu pun mengakhiri kisah cintanya via online. Epos romansa yang terlibas kecanggihan teknologi internet?

Di sebuah sudut kota Jakarta, Ryan (bukan nama sebenarnya) menceritakan perkenalannya dengan seorang gadis melalui situs jejaring sosial facebook. Sapa-menyapa yang kerap dilakukan, membuat keduanya tertarik. Pertemuan yang dirancang kemudian pun, berlanjut pada jalinan kasih kedua insan.

Namun, ketika hati tak lagi cocok, pemuda dengan paras lumayan ini pun segera memutus tali cintanya secara singkat melalui dunia maya. “Saya ketemu pacar lewat facebook, kenalan, terus chating, kopi darat. Jadi sekarang putusnya lewat facebook saja, lebih gampang, simpel, nggak cape-cape,” kata Ryan (23) kepada INILAH.COM.

Inilah demokrasi virtual-digital ciptaan peradaban manusia modern. Alih-alih memudahkan manusia dan aktivitas bersosialita, teknologi internet (digital) kini sudah merasuk menembus bilik-bilik waktu, rutinitas, budaya, hingga wilayah privat sekalipun seperti urusan asmara.

Adaptasi teknologi ini pun terbilang cepat, melintasi samudra, benua, kantor-kantor, hingga ke toilet sekalipun.

Budaya tatap muka dibalut keramahan personal pun kini tergantikan oleh huruf-huruf dingin yang terpampang di layar monitor. Tak heran, bila romantika ala digital dalam kisah Ryan pun hanya menjadi sekelumit cerita dalam budaya baru berbasis teknologi.

Terbukti dari hasil jajak pendapat yang dilakukan sebuah lembaga survei di London. Disebutkan, kini semakin banyak orang yang memutuskan hubungan cinta melalui media digital, seperti e-mail dan situs jejaring sosial (facebook, twitter, dan lainnya).

“Lebih dari sepertiga dari 2.000 orang (34%) yang diwawancarai mengatakan, mereka memutuskan hubungan melalui e-mail, sementara 13% telah mengubah status di situs Facebook menjadi single tanpa memberi tahu kepada pasangannya,” demikian hasil survei yang dikutip Reuters Rabu (24/2) kemarin.

Sementara hanya sedikit orang London memutuskan pasangannya melalui handphone, yaitu 8%, ada beberapa yang masih memilih cara ‘jadul’ untuk mengakhiri hubungannya, yakni dengan tatap muka atau bertemu langsung, 38%. “Putus melalui digital merupakan cara yang paling banyak digunakan,” ujar Manajer Penjualan pada DateTheUk Sean Wood.

Pengamat marketing komunikasi massa Universitas Padjadjaran Bandung, Andre Vincent Wenas mengatakan, beberapa orang cenderung menggunakan cara digital untuk putus hubungan. Selain lebih praktis dan cepat, cara ini juga menghindari kesalahpahaman.

Hal ini juga menghindari pertengkaran yang biasanya muncul pasangan bertemu muka dan berbicara langsung akan memicu pertengkaran pasangan kekasih. “Kini pertukaran ide berada dalam jalur bebas hambatan budaya, prasangka. Dorongan kekuatan teknologi telah meruntuhkan banyak hambatan komunikasi yang irasional,” ujar Vincent.

freenomena facebook, twitter, email, dan media virtual lainnya merupakan pembuktian demokrasi massal. “Demokrasi ala facebook telah membuktikan kedigdayaannya, terlihat dari kasus cicak-buaya, koin prita, dan sebagainya,” ujarnya.

Menurutnya, kehadiran internet dalam beragam bentuk aplikasi dari yang jadul (Friendster) hingga yang sedang booming (Twitter) ibarat pil doping. Khususnya peradaban ‘facebook’ yang bisa dijadikan rujukan sumber berita bagi media, seolah ada dalam sebuh republik.

“Ini adalah akselerasi kesembilan trend tadi, bentuknya bermacam-macam, misalnya digitalisasi, mobilisasi, personalisasi, virtualisasi. Mereka saling bereaksi kimia satu sama lain dan lahirrlah sebuah dunia bebas yang baru,” papar Vincent yang juga dosen Fikom ini.

Gambaran fenomena tadi ibarat menempatkan manusia berada dalam sebuah dilema. Kehadiran teknologi, faceboook, twitter, dan sebagainnya, di satu sisi ia merrontokkan tradisi budaya dan nilai-nilai dan etika. Namun, di sisi lain, manusia dan peradaban secara de facto tidak bisa hidup tanpa teknologi. “Manusia tak bisa menolak atau menghentikan laju kebudayaan. Tak ada pilihan selain manusia masuk dalam pergelutan teknologi itu dengan memanfaatkan sebaik-baiknya,” pungkas Vincent.

~ oleh Thomas pada April 4, 2010.

Satu Tanggapan to “Putus Pun, Lewat Facebook”

  1. Ulasan yang mantap teman…

    Betapa manusia semakin malas berhubungan tatap muka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: